Nikita Mirzani berbicara

Nikita Mirzani “Gue nggak setuju one nigt stand. Nggak mungkin dong kita baru kenal, sudah melakukan hubungan seks saat itu juga. Menurut gue rasanya gimana gitu, dan gue bukan penganut hal seperti itu,” ujar Nikita.

Nikita Mirzani – Seperti diketahui dalam sebuah riset Sexual Wellbeing Global Survey yang dilakukan Durex, di Indonesia, ada delapan dari sepuluh wanita (77%) dan tujuh dari sepuluh pria (69%) mengatakan bahwa aspek emosional dari hubungan seks, seperti perasaan dicintai, dihormati dan saling mengenal lebih mendalam merupakan faktor yang penting

Februari 25, 2012 at 6:26 am Tinggalkan komentar

SERIBU PERNAK PERNIK PONSEL ANDROID

Seribu Pernak Pernik Ponsel Android Pertemuan Pertama“Viktorikaaaa……………” jerit seorang pemuda di hamparan padang luas membentang dimana matahari memperlihatkan tarian penutup episode. “Where are you?”

SERIBU PERNAK PERNIK PONSEL ANDROID “Aku disini” jawab sebuah suara. Pemuda itu pun segera menoleh dan mendapati seorang gadis bersandar di bawah pohon berjarak dua meter dari tempatnya berdiri. Dia memakai kaos oblong, celana training, dan sebuah handuk di leher. Rambut panjang hitam bergelombangnya di ikat ekor kuda. Sebuah botol mineral yang tinggal separuh ada ditangannya.

“Kau siapa?” (=.=”)

“Vik-to-ri-ka” jawabnya enteng sambil memutar-mutar handuknya.

“Kenapa kau mengikutiku? Aku kan tidak mengenalmu” protes pemuda jangkung dengan jamper yang rambutnya tertiup angin sepoi senja itu.

“Kau memanggilku kan?” jawab gadis bernama Vik-to-ri-ka itu. Pemuda itu bengong dan bingung. “Lagi pula, aku disini dari tadi. Kau menghalangi pandanganku, bodoh” ucapnya berdiri meninggalkan pemuda itu.

“Hei, jangan seenaknya mengatai orang bodoh dan pergi begitu saja” jeritnya.

“Aku tidak bicara dengan orang asing” ucapnya sambil menyumbat telinga denga dua jari telunjuknya.

“Kau sendiri yang memulai kan?” Teriaknya lagi.

“Suaramu membuat telingaku sakit” ucapnya terus berjalan meninggalkan pemuda aneh di belakangnya yang terus mengomel panjang tidak jelas.

****

Pertemuan Kedua

“Aku tidak mau” teriak seorang gadis sambil menarik-narik tangannya. “Hei, lepaskan..! Dasar om-om jelek”omelnya.

“Ayo, jalan” ucap seorang pria perlente yang menarik tangan gadis itu. Wajahnya lumayan tampan, tubuh tegap atletis dibalut setelan jas yang membuatnya terlihat keren. Sedangkan sang gadis, berambut panjang hitam bergelombang, wajahnya terlihat kesal sekali. Dia memakai sebuah gaun berwarna purple dan sepatu berhak.

Dan kejadian itu dilihat oleh seorang pemuda dengan troli berisi kantong-kantong tepung.

“Hentikan” ucapnya bergaya pahlawan bertopeng.

“Apa?” ucap dua orang dihadapnnya dan menghentikan aksi tarik-menarik .

“Lepaskan gadis itu, hei, pria hidung belang” ucapnya menunjuk sang pria ala Detektif. “Meskipun aku akui kau tampan, perlakuanmu pada wanita jelek sekali” lanjutnya masih bergaya pahlawan.

“Papah orang aneh itu siapa? Kenapa dia muncul tiba-tiba” tanya gadis itu pada sang pria hidung belang.

“Wah, Papah belum pernah lihat” gumamnya.

“Berarti orang asing dong?” tanyanya sambil memeringkan kepala. Terlihat manis sekali.

“Ayo, kita pergi Victorique” ucap sang pria yang segera di sambut dengan anggukan gadis itu. Mereka lalu pergi sambil bergandengan tangan meninggalkan sang pahlawan salah sasaran yang bengong seperti sapi ompong. ( ‘o’ )”

“Eh, tunggu dulu” ucapnya mulai tersadar. ”Viktorika” gumamnya. Ingatannya kembali pada sesosok gadis berambut pirang yang dirindukannya. Lalu berganti dengan wajah gadis lain yang asing di sore hari sebelumnya. “kalau tidak salah namanya Viktorika juga kan?” gumamnya lagi, meminta pembenaran. “huh, banyak sekali yang beranam Viktorika di tempat ini”

“Hoi, Allan” panggil seorang yang menepuk punggungnya dengan buku catatan barang setebal lima senti.

“Kenapa kau memukulku senior William?” protesnya pada sang senior berkacamata yang pasang tampang judes. Dia sendiri memegangi kepalanya yang dihinggapi burung bercorak bintang-bintang.

“Cepat pindahkan tepung-tepung itu ke dapur se-ka-rang ju-ga” pintanya disertai tatapan maut.

“Iya iya” lanjutnya membawa troley ke dapur. “Galak sekali” omelnya setelah jauh.

****

Pertemuan Ketiga

“Perkenalkan. Aku Steven Bran. Instruktur kalian yang baru” ucap pria yang berdiri di depan kelas dengan muka full smile memperlihatkan deretan gigi putihnya yang menyilaukan.

Allan memandang sosok pria yang berdiri di depan dengan seksama. Dia merasa familiar dengan sosok itu. Mirip dengan pria hidung belang kemarin, pikirnya.

“Wow” ucap seorang gadis yang berdiri di samping Allan, datar.

“Heeeeh…” pemuda itu hampir berteriak jika gadis itu tidak buru-buru menyumbat telinganya. “Apa yang kau lakukan disini?” bisiknya.

“Belajar memasak kan?”

“Maksudku sejak kapan kau ada disini?”

“Sejak tadi” ucapnya datar dan terus memandang instruktur baru yang sedang bercerita di depan.

“Apa ada pertanyaan lainya?” tanya pria bernama Steven Bran yang menebar pesonanya, memebuat kaum hawa dalam ruangan mabuk kepayang.

“Master, sudah punya pacar?” tanya seorang siswi yang mengangkat tangannya.

“Iya, tentu saja” jawabnya mematahkan hati para gadis. “Itu, berdiri di sana” tunjuknya pada gadis yang berdiri di samping Allan. “Victorique sayang” ucapnya sambil melayangkan sebuah cium jauh. Dan suasana pun mendadak ribut.

“Dasar, om-om jelek” gumamnya manyun. Sedangkan Allan hanya menatap Viktorika atau Victorique dan Steven Bran bergantian.

****

Satu Minggu Kemudian

“Kalau mengaduknya tidak konstant creamnya akan pecah” ucap Steven Bran yang berkeliling meneliti pekerjaan anak didiknya. “Sajit, aduk searah jarum jam” tegurnya pada seorang pemuda India. “William, pekerjaanmu bagus” pujinya. “Allan, mejamu berantakan sekali” komentarnya. “Victorique” dia berhenti di depan Victorique yang sedang memotong buah peach. “Jangan mencampurnya dengan yang aneh-aneh ya” ucapnya kemudian.

“Ini namanya inovasi” ucapnya menuangkan yogurt pada potongan buah peach dan mencampurnya lagi dengan cream.

“Dilarang membantah” ucapnya dengan suara menggelegar. “Bagi yang hasilnya diluar standar harus mengulang” lanjutnya disertai suara berisik keluhan. Beberapa menit kemudian semuanya kembali pada pekerjaan masing-masing dengan serius.

“Dia itu, ayahmu kan?” tanya Allan yang kitchen setnya di samping Victorique.

“Ya, kenapa?”

“Galak sekali”

“Memang” ucapnya sambil terus menganduk coklat untuk saus. “Kenapa? Kau takut? Spatula” liriknya pada Allan.

“Sp… Spatula? Maksudanya aku?” dia pun menunjuk dirinya dengan jari telunjuk. “Namaku Allan, bukan spatula. Jangan seenaknya mengganti nama orang” protesnya. Kalau dipikir Allan memang mirip spatula. Tubuhnya kurus ceking dan kepalanya terlihat lebih besar, mungkin karena rambutnya yang tebal mengembang ditambah topi tingginya.

“Aku tidak tanya”

“Dasar menyebalkan” digenggamnya spatula ditangan erat-erat.

“Creammu pecah” ucap Victorique. Karena kesal, Allan sampai lupa mengaduk, cream buatannya pun rusak dan terpaksa mengulang lagi.

Disinilah Dreams Cooking Academi, dimana para pemuda dari penjuru dunia berkumpul untuk menimba ilmu dan belajar menjadi seorang chef profesional.

*****

Satu Bulan Kemudian

“Hei Viktorika, aku punya teman yang namanya sama denganmu” ucap Allan saat istirahat siang

“Aku tahu”

“Eh” Allan pun batal menyuapkan sepotong cake ke mulutnya.

“Kau berkali-kali meneriakkan nama itu setiap sore” ucap gadis yang duduk disampingnya sambil menyendok pasta saus musroom dari piringnya.

“Namamu itu bagaimana ejaannya? Apa V-I-C-T-O-R-I-C-A?”

“V-I-C-T-O-R-I-Q-U-E”

“Ejaannya memang berbeda” ditatapnya taman bunga verbena yang sedang mekar, bunga kesukaan Victorica. “Dia itu gadis yang manis, baik hati, dan pandai dalam hal teori maupun praktek. Dia juga sering mengajari aku” ceritanya. “Tapi, tiga bulan yang lalu dia tiba-tiba keluar dari akademi dan kembali ke Prancis”

“Kasihan” ucapnya sebelum membuka mulut untuk suapan kedua.

“Victorica. Dia itu memang manis. Rambut pirang yang cantik. Mata safir yang indah. Dia itu cantik seperti boneka” Allan membayangkan Victorica yang sedang berlari menghampirinya dan memanggil namanya. Rambut pirang panjang yang menari dan senyuman dari bibir mungilnya.

“Ha, seram”

“Dia pergi dan aku tidak mengantar kepergiannya. Seharusnya aku tidak ikut studi banding ke India jadi aku bisa melepasnya”

“Kau menyesal karena mengikuti studi banding?”

“Buka begitu juga. Hanya…” kata-kata pemuda itu terputus karena bell tanda istirahat telah usai. Dilihatnya piring Victorique yang telah kosong, sedangkan cake miliknya masih utuh.

“Ah, eh, aku belum makan” ucapnya panik saat Victorique beranjak dari meja makan. Allan pun menyambar cakenya dan memakannya sambil berjalan menuju kelas berikutnya.

****

“Apa ini?” Allan bertanya-tanya tentang makanan yang ada di hadapannya. Bentuknya bulat, berwarna hijau, kenyal dan ada parutan kelapa diatasnya. “Makanan apa ini?” pemuda itu pun menusuk-nusuk makanan itu dengan garpu dan cairan berwarna coklat keluar dari dalamnya.

“Itu klepon” jawab Victorique yang ternyata telah melahap makanan hijau bernama klepon itu.

“Nah, kalian harus memakan itu dan tulislah komponennya” ucap Steven Bran, atau yang lebih senang di panggil Master Sweet. Memang keahliannya adalah membuat makanan manis. Semua orang di ruangan itu pun memakan makanan yang sama dan menuliskan komposisinya pada kertas yang telah dibagikan.

“Tepung ketan. Chew chew, gula, krim. Chew chew, manis apa ini? Chew chew, bukan madu atau sari buah, bukan pula coklat. Rasa manis yang asing” namun Allan menuliskan apa yang dia ketahui dari memakan si kenyal hijau itu.

“Wah, disini yang benar hanya beberapa orang rupanya” ucapa Steven Bran dengan senyuman iblisnya. “Selain Laila dari Malaisya dan Putri dari Indonesia, salah semuanya” lanjutnya disertai suara ribut. “Karena Klepon ini. Makanan ini bernama Klepon. Memang berasal dari Asia Tenggara, Indonesia khususnya” ucapnya dengan tawa menggelegar. Sepertinya bahagia setelah berhasil mengerjai murid-muridnya.

“Dasar, raja iseng” gumam Victorique. Steven Bran adalah penjelajah kuliner sejak dia masih muda. Dia bekerja keliling dunia sambil mencari jenis makanan baru. Dan tentu saja bersama putrinya, Victorique Bran.

“Kenapa kertasmu kosong?” Allan melirik kertas kosong dihadapan Victorique yang seharusnya berisi komponen makanan eksotis itu.

“Diisi juga tidak akan di anggap” jawabnya. “Aku dan ayah sudah keliling dunia. Apa yang yang ayah tahu aku juga tahu”

“Hebat, kalian pernah kemana saja?” tanya Allan antusias.

“Amerika, Brazil, Cuba, Italia, Prancis tentu saja. Tapi yang paling sering kami kunjungi adalah Asia. Banyak makan eksotis dan unik disana? Hihihi….aku suka” ucanya sambil tertawa. Baru kali ini Allan melihat gadis itu tertawa setelah satu bulan bersama.

“Kau manis sekali kalau tertawa” ucapnya spontan.

“Kata-katamu membuatku mulas” jawabnya dan kembali memasang tampang jutek. “Ayo, cepat kita buat modifikasi klepon ini sebelum om itu ngamuk” ucapnya yang segera menimbang tepung dan menyiapkan bahan.

“Membuat?” Allan mulai panik karena tidak tahu bagaimana membuat makanan eksotis itu.

“Kau tidak dengar ya? Kita membuatnya berkelompok dua orang. Dasar spatula”

“Berhentilah memanggilku begitu” ratap Allan berlinang airmata.

Setelah satu jam berlalu, saat penilaian pun dimulai. Steven Barn mulai berkeliling dan mencicipi klepon modifikasi buatan empat belas penghuni ruangan itu.

“Sajit, Mabel, ganachenya memang enak, tapi kulitnya terlalu keras” komentar pedas pun keluar dari bibirnya yang manis, kontras sekali. “Jangan pernah mencampurnya dengan kacang, ini bukan mochi” omelnya lagi. “William, Laila, kalian kreatif mengganti parutan kelapa dengan kacang almond. Rasanya lumayan juga. Tapi kenapa bentuknya penyok?” tambahnya. “Allan, Victorique. Kenapa warnanya pink begini?” ditatapnya klepon pink yang terlihat lovely itu.

“Aku pakaikan sirup chery dan isinya aku ganti mixfruit” jelas Allan yang memang doyan makan buah kering.

“Yah, model baru. Boleh juga. Tapi kenapa kau pakai kismis? Ini terlalu asam. Rasa adonan kulitnya jadi menghilang” tanyanya bak polisi menginterogasi penjahat. Dan di kelas itu pun tidak ada yang lolos dari kata-kata pedasnya.

****

Dua Bulan Kemudian

SERIBU PERNAK PERNIK PONSEL ANDROID “Hei, Viktorika, ehem, Vic-to-ri-que” ucap Allan yang bersandar pada sebuah pohon rindang setelah mereka berjalan-jalan bersama sore itu. Sebenarnya mereka bertemu di jalan dan akhirnya berjalan bersama. “Sejak kecil aku selalu bermimpi menjadi chef hebat seperti ayahku” kenangnya pada sang ayah yang telah tiada saat dia berusia dua belas tahun.

“Jadilah chef yang hebat” ucap Victorique yang bersandar di sisi lain pohon, membelakangi Allan.

“Bukanya aku tidak berjuang, tapi aku sering tidak percaya diri. Entahlah, kadang aku tidak yakin bagaimana hasil masakanku. Nilaiku juga rata-rata, tidak ada yang bisa dibanggakan”

“Pantas saja kalu kau sering kena semprot om om jelek itu” komentar Victorique yang hampir memejamkan matanya karena hembusan angin senja yang menyegarkan. “Kau itu tidak hanya ceroboh tapi emosimu juga meledak-ledak dan itu mempengaruhi cita rasa masakanmu. Padahal kau berbakat. Kombinasi yang kau buat tidak sepenuhnya salah hanya kadang kurang tepat. Percayalah dan yakinlah kalua kau bisa”

“Hmmm, ya” ucapnya ragu. “Kau tahu, sejak masuk akademi aku sering menhabiskan waktu luang disini, kadang bersama Victorica juga” ucapnya guilty menyebut nama itu. “Kau tahu, pohon ini adalah pohon impianku. Semua keinginan, semua impian, selalu aku ucapkan di bawah pohon ini” ucapnya penuh semangat.

“Setiap akan ada ujian aku selalu berdoa disini. Berharap aku lulus ujian. Meskipun…. kadang harus mengulang seperti minggu lalu” kenangnya saat masakan Cina-nya berantakan. “Tapi aku menggantungkan mimpiku disini, di pohon ini. Damai sekali rasanya, setiap gundah dan duduk disini” lanjutnya. Namun tidak ada tanggapan dari gadis itu. “Hei, Viktorika, kau tidak mendengarku ya? Viktorika?” Allan pun membalikkan tubuhnya melihat Victorique yang tertidur dibawah pohon, tapi…

“Vi…Viktorika… Viktorika, bangunlah” disentuhnya tubuh dingin gadis itu. Allan pun panik dan menggendong tubuh Victorique kembali ke asrama.

“Victorique….” jerit steven Bran histeris mentaap putrinya yang terbaring lemah di ruang kesehatan. “Victorique, ma chere”

“Aku tidak apa-apa Papa” ucapnya menenangkan sang ayah yang panik.

“Hei, Viktorika. Kata dokter kau harus banyak istirahat dan minum vitamin” ucapnya meletakkan bebrapa bungkus vitamin dimeja.

“Thank you, Allan”

“Kau… Kau memanggilku Allan? Akhirnya…” ucapnya terharu karena selama ini Victorique selalu memanggilnya spatula.

****

Setelah tiga hari Victorique kembali ke kelas dan beraktivitas seperti biasanya.

“Hei, spatula. Kau tidak mau ke Prancis?” tanyanya pada Allan saat mencicipi makanan buatan mereka di cafetaria.

“Apa?” Allan menteskan air matanya kembali karena Victoriqe memanggilnya spatula, lagi.

“Ada seleksi untuk studi banding ke Prancis untuk bulan depan” lanjutnya sambil mengigit sepotong pie apel.

“Kenapa aku harus ikut?” tanyanya dengan mulut penuh pie lemon hasil karyanya. “Kenapa tidak kau saja? Kau kan sudah mahir, putri instruktur pula”

“Bukanya sombong, tapi aku sudah keliling dunia bersama papa dan belajar banyak hal. Itu kan lebih dari sekedar studi banding. Dasar spatula”

“Kenapa kau senang sekali memanggilku spatula?” tanyanya penasaran. Selama ini Allan tidak tahu apa alasan Victorique memanggilnya begitu.

“Kau tidak pernah bercermin?”

“Kau menghinaku ya?”

“Ya” jawabnya yang dibarengi ratapan pilu pemuda itu.”Rambutmu berantakan, kau tahu?”

“Ya, memang sih rambutku tebal begini. Mau bagaimana lagi, faktor genetik” jawabnya ngeles dan mencomot sepotong pie apel di piring gadis itu.

“Dasar spatula” gadis itu ikut mencomot sepotong pie lemon di piring Allan dan menggigitnya. “Hoek, asam…” gumamnya menyipitkan mata.

“Memang” jawab Allan santai. “Makanya aku tadi dimarahi Instruktur Bran, salah pilih lemon”

****

Tiga Bulan Kemudian

“Hei, spatula. Bawakan aku coklat atau wine ya” pinta Victorique saat Allan hendak berangkat ke Prancis. Karena paksaan Victorique dia mengikuti ujian dan berhasil lolos.

“Hei, aku sudah potong rambut. Jangan memanggilku spatula lagi” pintanya sambil mengusap rambut dengan jemari kurusnya. “Aku pergi dulu ya, Viktorika” ucapnya sebelum berjalan menuju gerbang.

“Allan” panggilnya. Sebuah benda melayang ke arah pemuda itu dan berhasil ditangkap dengan tangan kirinya. Sebuah benda berbentuk kotak bermotif indah dengan jahitan rapi dan tali di ujungnya. Sepertinya sebuah kalung. Karena mengembara berkeliling dunia, Victorique memiliki banyak benda eksotik.

“Aku dapat itu waktu ke Jepang. Katanya jimat keberuntungan” ucapnya dengan sebuah senyum yang jarang dilihatnya sambil melambaikan tangan. Enath kenapa di mata Allan pemandangan itu berubah menjadi Victorica berambut pirang yang melambaikan tangan padanya.

****

Paris

Daun pohon acer mulai bergugran di pertengahan musim rontok. Suhu udara mulai menurun meskipun langit masih tampak biru menaungi bistro dibawahnya. Allan berjalan-jalan disekira hotel tempat menginapnya sebelum menuju lokasi studi esok harinya.

SERIBU PERNAK PERNIK PONSEL ANDROID “Vanilla latte and croque-monsieur please” pesannya pada seorang pelayan bistro. Allan memang tidak bisa bahasa Prancis. Salah satu alasannya tidak mengikuti seleksi secara suka rela. Setelah kopi dan sandwich ham-kejunya tiba langsung disantapnya sambil menikmati sore indah dimana matahari terbenam terlihat dari seberang sungai

“Allan” panggil sebuah suara. Tampaknya seorang wanita. “Is it you?” tanyanya. Wanita itu berambut panjang berwarna pirang dengan mata safir yang mengagumkan. “Ah, that’s right. Long time no see” serunya dengan mata berbinar dan menarik kursi di samping Allan.

“Victorica?” Allan masih tidak percaya akan penglihatannya. Bidadari dalam mimpinya menjadi nyata. “I’m glad to see you again”

Akhirnya senja itu dihangatkan oleh obrolana antara Victorica dan Allan yang melepas rindu. Ternyata Victorica juga mengikuti training yang diadakan di Ritz Calton Hotel. Alasan dia kembali ke Prancis karena ayahnya yang sakit. Dan dia berencana kembali ke akademi untuk mengikuti kelas musim semi.

“Eh, aku ada teman baru yang namanya mirip denganmu” lanjut Allan dengan girang menceritakan tentang Victorique dan ayahnya yang galak tapi aneh. Hatinya begitu berbunga seakan musim semi menjemput. Senang sekali betemu kembali dengan gadis itu.

***

“Viktorika, kau tidur?” tanya Allan yang duduk bersandar pada sebuah pohon. Pohon impiannya. Sedangkan gadis itu bersandar di sisi lain pohon, membelakanginya.

“Tidak, aku mendengarmu” jawabnya menikmati sepoi angin awal musim panas yang memainkan rambut pirangnya.

“Aku bersyukur bertemu dengannya. Meskipun singkat tapi berkat dukungannya aku menjadi percaya diri dan yakin akan hasil karyaku”

“Sayang sekali aku belum sempat bertemu dengannya. Ceritakan padaku seperti apa dia” pintanya menggeser duduk disamping Allan.

“Dia itu aneh, kadang lucu, kadang menyebalkan. Aku kesal setiap dia memanggilku spatula. Victorique itu, walaupun terlihat judes dan galak seperti ayahnya, tapi hatinya baik” lanjut Allan menahan airmata yang menggenang.

SERIBU PERNAK PERNIK PONSEL ANDROID “Ya. Dia pasti gadis yang cantik” tambahnya menggenggam tangan Allan. “kalau kau seperti ini terus, dia tidak bisa pergi dengan tenang” hiburnya. “Victorique, pasti ingin kau menjadi chef profesional seperti harapanmu” dibawanya kepala pemuda itu dalam dekapannya. Kesedihan yang dalam atas kehilangan sahabat terbaik yang pernah dimilikinya. Walau hanya sekejab.

Setelah dua minggu di Paris, Allan pulang ke London dan tidak menemukan Victorique dimana pun. Dia bertemu Steven Bran, beberapa jam sebelum keberangkatannya ke Italia, tanah kelahiran Victorique. Victorique meninggal karena Pnemonia yang dideritanya.

SERIBU PERNAK PERNIK PONSEL ANDROID “Victorique, farewell…farewell…” gumam Allan dan terus menggenggam erat kalung yang sempat diberikan Victorique sebelum keberangkatannya ke Paris, pertemuna terakhir mereka. Dan ternyata kalung itu berisi secarik kertas bertuliskan ‘teruslah berjuang, Allan’.

Desember 30, 2011 at 4:01 pm Tinggalkan komentar

Ban Terbaik di Indonesia GT Radial

Ban Terbaik di Indonesia GT Radial  General Manager PT Gajah Tunggal Tbk selaku sponsor utama ISOM, Arijanto Notorahardjo, berharap bahwa dengan hadirnya kelas baru di perhelatan ini yang didukung langsung oleh ATPM, akan meramaikan event ini menghasilkan kompetisi yang seru. Hal ini sejalan dengan misi PT Gajah Tunggal Tbk untuk memajukan dunia otomotif di Indonesia.

Ban Terbaik di Indonesia GT Radial Dikelas GT Radial Car Championship, pertarungan akan semakin seru setelah seri ke-3 lalu Roy Haryanto dari Honda Surabaya Kiky Sport berhasil keluar sebagai juara pertama, sekaligus memenangkan superpole dengan mengalahkan juara tahun lalu, Rama Danindro, dari Honda Jakarta Center. Champiro SX1 berhasil menorehkan waktu lap terbaik 1 menit 52,1 detik di seri ke-3 ini.

Di kelas GT Radial Super Touring Championship, Rio Saputro dari Team P-Five GT Radial diharapkan untuk kembali mengulang sukses setelah menjuarai 3 seri sebelumnya, dan memberikan catatan waktu memuaskan di seri ke-3 dengan selisih 1,3 detik lebih cepat dari dua seri sebelumnya.

Ban Terbaik di Indonesia GT Radial  Di kelas GT Radial Super Max 1500cc, Fitra Eri dari tim Toyota Garden Speed merajai seri ke-3 mengalahkan lawan-lawannya. Fitra juga memenangkan kelas GT Radial Supercar Championship 1500 CC dengan menggunakan Toyota Yaris dan ban Champiro SX1 195/50 R15.

November 3, 2011 at 12:40 pm Tinggalkan komentar

Cerita Lucu Terbaru

cerita humor lucu ini saya dapatkan dari teman saya KoRina yang merupakanteman saya waktu SD sangat Lucu Lho,,, Cerita Lucu Terbaru neeee
======================================
Cerita Lucu Salah Bertanya

Seorang polisi sedang bertanya kepada terdakwa, seorang istri yang melakukan pemukulan kepada suami.
Polisi : “apakah yang di katakan suami kepada anda pagi ini”
Istri : “dia mengatakan, ‘sekarang sudah jam berapa Susan?” (lebih…)

Oktober 7, 2011 at 9:47 am Tinggalkan komentar

Biodata Ayu Ting Ting

Biodata Ayu Ting Ting udah ada yang Tau belom dengan cewek yang satu ini..??? wew,, sekarang Lagi Naik daun Lhooo,,,,, Ayu Ting Ting berusisa 19 tahun Masih kuliah udah sukses,,,jujur iri saya…xixixixixixi

Berikut

Biodata  Ayu Ting Ting Alamat Palsu
  • Nama : Ayu Tingting
  • Tempat/tgl lahir : Depok, 20 Juni 1992
  • Profesi : Penyanyi dangdut, presenter, model
  • Tinggi badan : 160 cm
  • Berat badan : 45 kg
  • Prestasi : Bintang sari ayu 2006, Putri Depok 2006, Mojang Depok, Presenter Kuis (ANTV), Album Dangdut (Geol Ajep2)
  • Album : Dangdut (Rekening Cinta), Goyang Sejati (ANTV), Dangdut Yoo (TPI), Kamera Ria (TVRI), Dangdut Pro (TVRI) Foto Ayu Ting Ting Alamat Palsu

 

Oktober 4, 2011 at 4:02 am Tinggalkan komentar

TOP 1 Oli Sintetik Mobil-Motor Indonesia

TOP 1 Oli Sintetik Mobil-Motor Indonesia Sepak terjang TOP one dimulai 37 tahun yang lalu, saat William Arthur Ryan bertekad untuk memulai TOP one Oil Products Company, dengan visi untuk menjadi perusahaan penyedia pelumas berkualitas tinggi dari Amerika ke seluruh dunia. Kariernya yang dimulai pada bidang kemiliteran dan jauh dari dunia bisnis dan perdagangan, tidak lantas membuatnya menyerah. Dan terbukti, ia mampu merambah pangsa pasar Asia, Amerika Latin & Eropa.

TOP 1 Oli Sintetik Mobil-Motor Indonesia Sebuah kebanggaan bagi dirinya dan keluarganya, mengemban tugas negara dan menjadi bagian dari Tim Intelejen Angkatan Darat Amerika Serikat, di bawah komando Jenderal MacArthur. Kepercayaan pimpinan perang tertinggi Amerika Serikat pada masa Perang Dunia II terhadapnya, membuat ia dipercaya untuk mengemban tugas di wilayah Pasifik.

William Arthur Ryan bertugas di Biak (Irian Jaya) dari tahun 1943 sampai dengan tahun 1945, setelah itu ia dipindahkan oleh atasannya ke Luzon (Filipina).Setelah perang berakhir, William A Ryan pensiun dari militer dan bergabung dengan satuan khusus dibawah Jenderal MacArthur yang bermarkas besar di Tokyo TOP 1 Oli Sintetik Mobil-Motor Indonesia

Oktober 2, 2011 at 3:57 am Tinggalkan komentar

Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia

Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia Siapa yang tak ingin blogger indonesia bersatu?

Blogger Nusantara digagas sebagai paguyuban blogger yang bersifat
lintas daerah dan lintas komunitas dengan cita-cita memupuk semangat
kebersamaan dan persaudaraan blogger indonesia.

Blogger Nusantara Blogpreneur Indonesia Paguyuban dari asal kata “guyub” yang berarti “rukun”. Setiap blogger
pasti memiliki harapan tentang “kerukunan blogger” itu. Bahkan setiap
kita mempunyai mimpi yang harus digapai. Dan tidak ada salahnya ketika
kita bermimpi tentang paguyuban blogger ini.

Sangat disadari bahwa bukan sesuatu yang mudah mencapai semangat
kebersamaan itu. Butuh waktu yang tidak singkat memupuk rasa
persaudaraan blogger hingga terhimpun dalam paguyuban; suatu
masyarakat atau kelompok yang ikatan sosialnya didasari oleh ikatan
perseorangan yang kuat.

Harapan dan mimpi itu harus mulai diwujudkan. Diawali dengan niat
berkumpul blogger Indoensia dalam satu tempat, satu waktu, satu
semangat dan satu moment yang dinamakan Kopdar 1000 Blogger Nusantara.
Saat kopdar itulah, kita bisa mulai menapakkan langkah kaki pertama
menuju terwujudkan mimpi dan cita paguyuban blogger nusantara.

Dan yang memulai bisa siapa saja. Yang pasti, hanya blogger yang
memiliki energi dan kemauan kuat mewujudkan kebersamaan dan
persaudaraan blogger indonesia itu. Itu bisa saja, kami, anda atau
kita semua.

September 30, 2011 at 9:27 pm Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Aneka Remaja